Tarim, 10 November 2024 – Keluarga besar Departemen Pendidikan dan Keilmuan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman, bekerja sama dengan PPI Hadhramaut dan Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Al-Ahgaff, menyelenggarakan seminar ilmiah bertema “Menggugat Orientalisme: Strategi Membantah Pemikiran Orientalis dalam Studi Islam.” Acara yang diadakan di Masjid Kuliah Syari’ah Universitas Al-Ahgaff ini menghadirkan pembicara utama Prof. KH. Yahya Zainul Ma’arif, atau dikenal sebagai Buya Yahya, salah satu ulama terkemuka Indonesia yang berdedikasi dalam dakwah Islam ahlussunnah wal jama'ah.
Tantangan Modern dalam Studi Islam
Seminar ini berfokus pada tantangan modern yang dihadapi umat Islam dalam merespons pemikiran orientalis yang kerap memicu persepsi keliru tentang Islam. Buya Yahya menekankan untuk memperkokoh keislaman, dengan menyarankan generasi muda agar tetap teguh berpedoman pada ajaran pokok agama Islam dalam menghadapi pandangan yang menyudutkan.
Buya Yahya: Karir Dakwah dan Pendidikan
Buya Yahya, yang lahir di Blitar pada 10 Agustus 1973, telah mengabdikan hidupnya dalam dakwah Islam. Setelah menempuh pendidikan dasar di Madrasah Diniah Al-Falah dan pesantren, ia melanjutkan studinya di Universitas Al-Ahgaff, Yaman, hingga menyelesaikan Ph.D di American University for Human Sciences, Amerika Serikat. Pada tahun 2006, ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Bahjah di Cirebon, yang kini menjadi pusat pendidikan Islam dengan berbagai cabang di Indonesia dan Malaysia.
Analogi Uang Palsu
Buya Yahya langsung menuju Masjid Kuliah Syari'ah setibanya di lokasi pukul 19.40 KSA. Setelah sesi penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta. Salah satu mahasiswa bertanya mengenai cara menyeimbangkan studi orientalis dengan dasar pemahaman Islam yang otentik. Buya Yahya menjawab, “Kitab-kitab yang kita pelajari tidak bisa disebut klasik, bahkan sangat modern karena manfaatnya sampai ke akhirat. Yang pokok adalah bagaimana mengokohkan pondasi kita pada dasar-dasar agama, selebihnya cabangan dari pemikiran mereka dapat dibantah dengan mudah.”
Beliau juga menambahkan analogi yang kuat untuk menegaskan pandangannya, “Ketika uang palsu beredar, jangan buang waktu mengumpulkannya satu per satu. Pelajari uang asli, maka yang palsu akan terlihat dengan sendirinya. Begitu juga dengan pemikiran kaum orientalis; fokuslah pada pokok-pokok agama, bukan dengan membantah tiap pandangan mereka satu per satu.”
Acara berakhir pukul 21.00 dengan penyerahan cinderamata kepada Buya Yahya oleh Dekan Fakultas Syariah wal Qonun Universitas Al-Ahgaff, Dr. Abdullah Awadh bin Sumaith, serta perwakilan dari PPI Yaman dan AMI Al-Ahgaff. Seminar ini diharapkan dapat membekali mahasiswa Indonesia di Yaman dengan wawasan baru yang relevan dalam menghadapi tantangan intelektual modern.
===============
-
Terus dukung dan ikuti perkembangan kami lewat akun media sosial PPI Yaman di:
- Instagram: @ppiyaman
- Facebook: PPI YAMAN
- Youtube: PPI Yaman
- Website: ppiyaman.org
1 Komentar
Maa syaa Allaah.. Selamat! Anda terpilih sebagai sosok dari sepuluh pemuda yg diseru oleh mendiang Soekarno demi untuk menggoncang dunia 💥
BalasHapus